Tulisan ini sebagai kelanjutan dari posting sebelumnya. anda dapat melihatnya di sini

Pengamatan atau observasi adalah proses pengambilan data dalam penelitian di mana peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian. Observasi sangat sesuai digunakan dalam penelitian yang berhubungan dengan kondisi/interaksi belajar mengajar, tingkah laku, dan interaksi kelompok. Tipe – tipe pengamatan yaitu, pengamatan berstruktur (dengan pedoman), pengamatan tidak berstruktur (tidak menggunakan pedoman).
Untuk mencapai tujuan pengamatan, diperlukan adanya pedoman pengamatan. Pengamatan sebagai alat pengumpul data ada kecenderungan terpengaruh oleh pengamat/observe sehingga hasil pengamatan tidak obyektif biasanya disebut dengan hallo efect (kesan yang dibentuk oleh pengamat). Untuk menghindari pengaruh ini digunakan dua atau tiga pengamat yang memiliki latar belakang keilmuan yang serupa.
A. Beberapa Pendekatan
Sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya, berhubung dengan sifatnya yang sangat teknis maka paparan yang lebih rinci mengenai prosedur observasi dalam PTK dibahas secara tersendiri dalam bagian ini. Dalam hubungan ini, sebagai pengantar dibahas berbagai sudut pandang yang dapat digunakan dalam menetapkan pilihan prosedur observasi yang akan digunakan dalam sesuatu siklus PTK. Dilanjutkan dengan langkah – langkah observasi serta teknik – teknik yang dapat dipilih.
Ada sejumlah kriteria yang dapat digunakan dalam memilih teknik observasi yang akan digunakan untuk sesuatu siklus tindakan perbaikan dalam rangka PTK. Adapun kriteria – kriteria yang dimaksud adalah:
- jenis data yang diperlukan dalam rangka implementasi sesuatu siklus tindakan perbaikan,
- indikator – indikator yang relevan yang termanifestasikan dalam bentuk tingkah laku guru dan siswa
- Prosedur perekaman data yang paling sesuai. Dan
- pemanfaatan data dalam analisis dan refleksi.
Lebih jauh pencermatan beberapa pendekatan observasi berikut dapat berfungsi lebih mengarahkan pilihan prosedur observasi yang paling sesuai untuk keperluan yang sedang dihadapi.
1) Interpretasi
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Kadar interprestasi dalam observasi dapat direntang mulai dari yang bersifat sepenuhnya mekanistik tanpa interpretasi sehingga dinamakan low–inference observation seperi dikembangkan oleh Flanders (1970). Rekaman data hasil observasi yang serupa ini akan berbentuk tanda cacah (tallies) untuk masing – masing kategori amatan, dalam hubungan ini yang terdiri dari (i)teacher talk, (ii) pupil talk, dan (iii) silence/confusion. Meskipun memang ada kemanfaatannya, khususnya untuk memetakan kecenderungan pendominasian diskursis (discourses) dalam interaksi pembelajaran, namun akan banyak juga sisi – sisi kajian lain yang tidak akan tersentuh dengan prosedur observasi seruoa ini, misalnya yang berkenaan dengan mutu keputusan dan/atau tindakan profesionala guru dalam pengelolaan interaksi pembelajaran.
Sebaliknya, untuk keperluan yang terakhir ini, diperlukan high-inference observation, yaitu suatu observasi yang mempersyaratkan penafsiran teknis secara langsung dan cepat (instaneous interpretation) dalam perekaman data hasil observasi.
Dengan kata lain fakta yang direkam dalam observasi itu lansung diinterpretasikan dengan kerangka piker tertentu, misalnya yang diartikulasikan sebagai asas – asas pembelajaran siswa aktif (Learner-centered instruction).Ini berarti bahwa apa yang dikatakan, atau tidak dikatakan, apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh guru dan/atau siswa diberi makna yang khas dan unuk dalam mengobservasi sesuatu episode pembelajaran.
2) Fokus
Dari segi titik tujuan observasi dapat dibedakan dari prosedur yang tidak secara a-priori menetapkan titik tujuan kecuali kehendak untuk memotret kesan umum tentang implementasi pendekatan pembelajaran siswa aktif sebagaimana telah dikemukakan dalam butir sebelumnya. Di pihak lain sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Ada pula observasi yang sebelum pelaksanaannnya telah menetapkan titik –titik tujuan tertentu. Misalnya mengenai dominasi guru dalam diskursis pembelajaran atu kadar tuntutan intelektual pertanyaan –pertanyaan yang diajukan guru (low cognitive Level vs high cognitive level). Ini berarti bahwa, dengan penetapan fokus yang dimaksud perhatian pengamat terutama akan dibatasi pada titik incar yang telah ditetapkan itu.
Di pihak lain ini tentu tidak dapat diartikan bahwa pengamat akan secara kaku menutup mata dan telinga dari kejadian – kejadian di luar focus, yang justru dianggap memiliki makna dan/atau implikasi penting berkaitan dengan tindakan perbaikan yang tengah digelar.
Pada sisi lain, memang ada saatnya diperlukan observasi yang bersifat terbuka (open–ended). Tindakan perbaikan yang memasang prakarsa dan kreativitas siswa (atau guru) sebagi salah satu tujuannya akan mempersyaratkan observasi yang lebih bersifat terbuka itu. Sebaliknya, penstrukturan yang terlalu dini dan atau kaku, akan gagal menjaring indikator –indikator yang berkenaan dengan prakarsa serta kreativitas siswa (atau guru) yang dimaksud.
[...] beberapa alat yang dapat dipakai untuk membantu indra manusia dalam penelitian, yaitu: 1. Observasi 2. Interview 3. Quasioner 4. Tes 5. Journal Siswa 6. Asesment 7. Pekerjaan Siswa 8. Audio taping or [...]
Pak, ini metode yang baik untuk diaplikasikan dalam proses pengajaran. Bisa dibuat aplikasinya dalam skenario pengajaran di kelas ? Terima kasih.
Salam Pendidikan Indonesia !
Asrillanoor
http://www.rumahbangsa.wordpress.com
————————
sangat bisa sekali bu, mudah-mudahan ibu bisa membuat rancangannya. lalu kita bisa sama-sama sharing.
salam
trims bapak dan ibu guru!!! kebetulan materi SMA saya ini!!!
Terimakasih. .saya sedang mengerjakan ptk jadi perlu data ini,terimakasih banyak.Sukses selalu untuk SD 3 BOJONGLOPANG
smoga sukses dalam mengembangkan potensi psertadidi di sekolah