Coelacanth; ikan purba hidup, tidak populer di mata ilmuwan

13 05 2009

Perhelatan World Ocean Confrence (WOC) yang diselenggarakan di Menado meningkatkan popularitas ikan ini. Bagaimana tidak, tiruan ikan ini dipajang di front office gedung pertemuan.

Asal-usul yang menyebutkan bahwa ikan ini adalah sisa peninggalan jaman purba yang masih dapat kita lihat secara nyata dan masih hidup.

Apa dan dari mana asal ikan ini akan kita bahas dari sisi berbeda.

Ikan yang berada dalam famili coelacanth pernah diterima sebagai bukti kuat bagi bentuk peralihan. Menyandarkan alasan mereka pada fosil coelacanth, ahli biologi evolusi mengemukakan bahwa ikan ini memiliki paru-paru primitif (belum berfungsi secara penuh). Banyak terbitan ilmiah mengemukakan fakta ini, lengkap dengan gambar yang menunjukkan bagaimana coelacanth beralih dari air ke darat. Semua ini bersandar pada anggapan bahwa coelacanth adalah spesies yang telah punah.

CoelacanthAkan tetapi pada 22 Desember 1983, sebuah penemuan yang sangat menarik terjadi di lautan Hindia. Seekor anggota famili coelacanth, yang sebelumnya digambarkan sebagai bentuk peralihan yang telah punah 70 juta tahun yang lalu, tertangkap hidup-hidup! Tidak diragukan lagi, penemuan contoh “hidup” dari coelacanth memberikan kejutan bagi para evolusionis. Ahli paleontologi evolusionis J. L. B. Smith mengatakan, “kalaupun saya bertemu dengan dinosaurus di jalan saya tidak akan lebih terkejut.”

Dalam tahun-tahun berikutnya, 200 coelacanth ditemukan di berbagai tempat di dunia. Coelacanth hidup menunjukkan begitu tidak berlandaskannya spekulasi yang berkenaan dengan mereka. Bertentangan dengan apa yang telah dinyatakan sebelumnya, coelacanth tidak memiliki paru-paru primitif ataupun otak yang besar. Organ yang oleh peneliti evolusionis dikemukakan sebagai paru-paru primitif ternyata hanyalah sebuah kantung berenang yang penuh lemak.  Lebih jauh lagi, coelacanth, yang sebelumnya diperkenalkan sebagai “calon reptilia yang siap beralih dari laut ke darat,” pada kenyataannya adalah seekor ikan yang hidup di kedalaman samudra dan tidak pernah mencapai lebih dekat dari 180 meter dari permukaan laut.

Alasan mendasar mengapa evolusionis membayangkan Coelacanth dan ikan yang serupa adalah “moyang hewan darat” adalah karena ikan-ikan ini memiliki sirip bertulang. Mereka membayangkan bahwa sirip-sirip ini secara bertahap menjadi kaki. Akan tetapi, ada perbedaan mendasar antara tulang sirip ikan dan tulang kaki hewan darat seperti Ichthyosteg. Seperti ditunjukkan Gambar 1, tulang sirip Coelacanth tak menyambung ke tulang belakang; sedangkan pada Ichthyostega terjadi sebaliknya, sebagaimana ditunjukkan Gambar 2. Karena alasan ini, pernyataan bahwa sirip berkembang bertahap menjadi kaki sangat tidak beralasan. Lebih jauh, struktur tulang sirip Coelacanth sangat berbeda dengan tulang kaki Ichthyostega, sebagaimana terlihat pada Gambar 3 dan 4.

Setelah penemuan ini, coelacanth tiba-tiba kehilangan semua popularitasnya dalam publikasi evolusionis. Peter Forey, seorang ahli paleontologi evolusionis, dalam artikelnya di majalah Nature, mengatakan:

Penemuan Latimeria memunculkan harapan untuk mengumpulkan informasi langsung atas peralihan ikan menjadi amfibia, karena pada saat itu ada keyakinan bahwa coelacanth merupakan kerabat dekat nenek moyang tetrapoda. …Tetapi studi tentang anatomi dan fisiologi dari Latimeria telah menunjukkan bahwa teori mengenai hubungan ini menjadi dangkal dan reputasi coelacanth hidup sebagai mata rantai yang hilang terlihat tidak tepat.

Ini berarti satu-satunya pernyataan serius mengenai bentuk peralihan antara ikan dengan amfibia telah diruntuhkan. dirilis dari berbagai sumber


Aksi

Information

3 responses

12 12 2009
WeibedofSette

Wow, I did not heard about this topic till now. Thx!

25 10 2011
some some paradise

swt

30 12 2010
ogi

wah sip sip, blog SD tapi saya pake buat bahan tugas SMA hehe

Kami tunggu komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: