Benarkah Ular Takut pada Garam

30 10 2013

ular tidak takut garam

SELAMA ini berkembang anggapan bahwa untuk menghindar dari serangan ular, bisa dilakukan dengan garam (natrium klorida). Jadi, jangan heran ketika kegiatan camping, banyak para anggota Pramuka atau bahkan pembinanya sendiri menaburi sekeliling tenda dengan garam. Hal itu dilakukan agar ular tidak bisa masuk ke dalam tenda. Tapi, benarkah tindakan itu?

Faktanya, ternyata SALAH! Ular tidak takut sama sekali terhadap garam. Bahkan, ketika ditaburi garam pun kulit ular tidak mengalami penyusutan.

Tidak takutnya ular terhadap garam dibuktikan oleh DERIC (Depok Reptile – Amphibi Community), yakni komunitas penggemar ular dan reptil asal Depok Jawa Barat. DERIC memperlihatkan bahwa ular memang tidak takut sama sekali terhadap garam. Bahkan ular tersebut pun tidak menghindar ketika ditaburi garam

Menurut Averroes Oktaliza, Wakil Ketua DERIC, adanya pemikiran yang berkembang di masyarakat, bahwa ular takut garam merupakan budaya dan pendidikan yang salah terhadap ular. Dan, uniknya kesalahan tersebut masih terjadi hingga kini dimana setiap orang selalu membawa garam untuk menakuti ular, baik ketika berpetualang di alam bebas atau di rumah.

Ia menambahkan, Justru ular sangat takut terhadap benda yang memiliki aroma yang sangat menyengat seperti bau bensin. Oleh karena itu, kalau mau aman saat camping (berkemah) terhadap serangan ular, maka siram saja sekeliling tenda dengan bensin. Namun, hal tersebut sebenarnya cukup mengundang bahaya karena bisa menyebabkan kebakaran.

Di Indonesia ada 400-an jenis ular. Hanya 30 di antaranya yang berbisa. Jadi, tidak semua ular berbisa dan berbahaya. Ular berperan penting bagi hidup manusia. Hewan itu merupakan predator alami tikus, makanan burung. Keberadaan ular dapat membantu mengurangi populasi hama tikus. Sedangkan burung karnivora jumlahnya semakin menipis karena pakannya juga berkurang karena ulah manusia.

Ada 3 jenis ular di Indonesia yang dilindungi oleh undang-undang. Yaitu phyton molurus, phyton timorensis dan chandra phyton viridis. Molurus terdapat di pulau-pulau besar. Timorensis hanya ada di pulau Timor dan Flores. Sedangkan viridis hanya terdapat di Papua.

Yang perlu diwaspadai terhadap ular, jika manusia berjalan di jalanan tanpa penerangan, saat bulan purnama karena musim kawin, pinggir sungai, hutan dengan posisi matahari di belakang kita. Selain itu juga di daerah berkapur, gua, pohon-pohon rimbun dan lain-lain.

Jika tergigit ular, korban disarankan tidak panik, mengamankan posisi korban dan penolong dari ular, dilakukan pembalutan elastis di atas luka untuk menghentikan laju bisa ke jantung. Selain itu korban tidak boleh banyak bergerak. Sebaiknya korban tergigit ular dibawa ke dokter.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang reptil ini gabung saja di komunitas DERIC -> https://www.facebook.com/groups/DeRICinfo/
===============
Sebagai bahan referensi
1. thescienceforum.com -> http://goo.gl/twhWhE
2. tnol.co.id -> http://goo.gl/7O6ryL
3. Youtube -> http://www.youtube.com/watch?v=yy0sw0rzTWs
4. tempo.co -> http://goo.gl/Opj0zI


Aksi

Information

Kami tunggu komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: